Minggu, 19 Februari 2012

Taman Blimbing Organik


Catatan

Taman Blimbing Organik dan Sepenggal Kisahnya

( Icon wisata tersembunyi masyarakat Bojonegoro)

Oleh: Aw. Abde Negara

Dua minggu yang lalu. Saya mengikuti perjalanan rombongan anggota komunitas sekolah nulis “Sanggar Guna”[1] menuju Taman-Kebun Blimbing yang tepatnya berada di Desa Ringinrejo Kecamatan Kalitidu-Bojonegoro. Berangkat bersama dengan sekitar 30-an orang dengan diangkut dua mobil yang sudah disediakan oleh pihak pemilik sanggar. Tapi sebelum berangkat, sebagai pemandu rombongan dan juga sekaligus pemateri tetap sekolah nulis, yaitu Mas Anas AG – begitu saya memanggilnya – memberi beberapa aturan main yang musti diperhatikan oleh semua rombongan, terlebih lagi yang menjadi siswa-siswi sekolah nulis Sanggar Guna.

Dia menjelaskan, kegiatan ini adalah salah satu program sekolah nulis yang diadakan oleh sanggar. Sebagai sarana education model, agar peserta sekolah nulis dapat menggali banyak inspirasi dan topik yang bisa menjadi bahan menulis. Jadi, masih menurutnya – dengan mendatangi langsung objek yang mau kita jadikan ide tulisan, ini akan membawa pengaruh yang besar pada hasil tulisan kita nantinya. Kalau tulisan itu berupa karya ilmiah, maka akan membantu lebih objektif dalam menulis. Jika berupa sastra, semisal cerpen atau puisi, maka akan membantu dalam melukiskan kiasan-kiasan sehingga menjadi kiasan yang terasa kuat dan berkarakter. Begitu pula akan membantu dalam menggambarkan tempat - objek tulisan, dan beberapa hal lain yang masuk menjadi unsur dari tulisannya. Mendengar penjelasan Mas Anas AG, saya jadi teringat sebuah tulisan seorang kolomnus terkenal yang bernama Mahbub Junaedi “Sekali melihat lebih baik daripada seribu kali mendengar”. Kurang lebihnya begitu.

Hingga kemudian tepat pukul 09.08 Wib – Begitu saya melirik jam handpone saya – rombongan telah beranjak berangkat menuju lokasi. Saya waktu itu berada di mobil pertama dan duduk di pojok kiri kursi paling belakang. Sebelah saya ada 3 (tiga) orang dengan jenis kelamin sama alias laki semua (Hufftt). Selama dalam perjalanan beberapa obrolan kecil, senda gurau dan cletak-cletuk segenap penghuni mobil - seperti mengomentari setiap apa yang terlewati, menemani sepanjang perjalanan kami. Dan dalam benak saya yang tak terkatakan waktu itu adalah rasa penasaran pada taman blimbing yang hendak kami kunjungi. Mungkinkah ia seperti wisata kebun apel di Malang sana ? Atau yang bagaimana ya ? Rasa penasaran inilah yang menjadikan perjalanan ini penuh teka-teki dan terasa lama.

Akhirnya sekitar 40-an menit rombongan kami telah tiba di lokasi. Lantas kami bersama-sama masuk dalam kebun, menyusuri jalan setapak mengikuti pemandu yang berada digaris depan. Disekitar jalan yang terlewati pohon-pohon blimbing yang rindang, dengan menyembulkan buah-buahnya yang masak, seakan bermanis-muka menyambut kedatangan kami serta menawari dirinya untuk segera dipetik. Upss, sabar ! ini harus mengikuti intruksi pemandu dulu, jangan nylonong saja, begitu pikir saya meredam ketidak sabaran. Hmmmm..

****

Sejarah Taman Blimbing Ringinrejo Dengan Segala Keunikannya

Bapak Suwoto – atau akrab dipanggil Pak Wo, adalah orang pertama yang menyambut kedatangan rombongan. Beberapa teman menggelar terpal, lantas duduk dan menyampaikan beragam pertanyaan untuk menggali banyak informasi darinya seputar taman blimbing ini, sedang beberapa teman yang lainnya berdiri, bahkan ada yang mondar-mandir termasuk saya di dalamnya. Dari percakapan itulah, saya tahu ternyata Pak Wo merupakan generasi ke dua yang menggeluti usaha budidaya blimbing yang selanjutnya menjadi objek wisata Taman Blimbing. Dia bercerita bahwa asal mula blimbing di Ringinrejo itu dibawa dan dikembangkan oleh warga asli desa setempat yang bernama Mbah Nur dan Mbah Suyoto. Hanya saja Mbah Suyoto – ternyata ayah Pak Wo sendiri, telah lama meninggal dunia. Lantas bagaimana dengan Mbah Nur? Menurut Pak Wo, dia masih hidup dan kebunnya tidak jauh dari kebun Pak Wo.

Mendengar Mbah Nur masih hidup, saya bersama 2 (dua) teman saya – namanya Thohir dan Bambang - beranjak untuk mencari sosok ini. Ada keinginan yang begitu kuat untuk tahu dan bertemu langsung dengannya, yang seperti dikatakan Pak Wo tadi sebagai sang pelopor budidaya blimbing disini. Berkelebatlah pikiran saya “Sosok Mbah Nur tidak boleh terlewatkan dari jepretan kamera saya ! harus pkoknya !” hehe…

Menelusuri keberadaan kebun Mbah Nur ternyata tidak mudah. Harus bertanya-tanya dulu pada setiap orang yang saya jumpai. Hingga pada akhirnya kami bertemu dengan seorang ibu yang umurnya antara 40 – 50-an tahun. Setelah berkenalan ternyata ibuyang punya nama Kumilah ini merupakan istri Mbah Nur. Wahh…kebetulan sekali piker saya. Dia bilang Mbah Nur lagi baru saja beranjak dari kebun, bertemu dengan beberapa tengkulak. Kami bertiga disuruh menunggu sebentar karena biasanya tidak begitu lama. Dia menyuguhkan beberapa buah blimbing masak kapada kami sambil berujar “Karo ngenteni Mabh Nur, Monggo di sambi Den blimbinge Mbah-e iki“. Ujuarnya ramah.

Dan memang benar tidak begitu lama, datang seorang lelaki tua dengan pakaian sederhana. Dia naik sepadah motor dengan rengkek yang berisi beberapa karung kosong terletak di belakang motornya. Setelah menyalami dan bertegur sapa pada orang tua ini serta mengutarakan misi, kami bertiga diajak olehnya duduk dibawah pohon blimbing yang begitu rindang dibanding pohon yang lain. Dengan senyum penuh keramahan, serta hiasan keriput di wajah Mbah Nur tercermin dia sosok yang enak diajak ngobrol. Dia dengan lugu menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang kami ajukan dengan sesekali diselingi gelak canda tawa. “Eee..Mbahe iki gak tau mangan sekolahan, bosone mbahe yo ngene ki, pral prol,hehe.

*****

Dengan pandangan kosong, sepertinya sedang menerawang masa lalu yang sudah terlipat-lipat oleh ingatannya yang makin renta. Tanpa memandang pada kami, akhrinya mbah Nur memulai ceritanya.

Waktu itu terjadi pada tahun 1984. Menurutnya asal mula kebun blimbing Desa Ringinrejo, yang kemudian sekarang telah diresmikan menjadi taman wisata Kebun Blimbing ini adalah bermula dari suatu pertemuan di balai Desa Siwalan dengan seorang petugas PPL kecamatan setempat. Waktu itu Mbah Nur tertarik dengan isi pembicaraan dari petugas PPL bahwa ada salah seorang petani yang mengelola usaha kebun blimbing sebanyak 60 pohon dan tidak sampai 6 tahun tahun sudah bisa naik haji.

Mendengar penuturan petugas PPL itu, Mbah Nur menjadi kaget dan termotifasi, apalagi saat merenungi kebun yang dimilikinya selama itu selalu ditanami palawija dan tidak banyak mengangkat perekonomian keluarganya. Keinginan Mbah Nur selanjutnya disampaikan pada rekannya yang bernama Suyoto –seorang kasun Ringinrejo waktu itu. Apa yang menjadi niatan Mbah Nur ternyata mendapat respon positif dari Mbah Suyoto. Mbah Yoto – begitu dia memanggilnya, memotifasi bahkan mengamini niat budidaya blimbing tersebut.

Setelah mendapat keyakinan penuh, pada suatu hari Mbah Nur berangkat ngontel ke Desa Siwalan, mencari sosok yang disebut-sebut oleh petugas PPL, yang ternyata namanya Haji Suhadak. Setelah bertemu dengan sosok Haji Suhadak, Mbah Nur mengutarakan segala maksud dan tujuan kedatangannya. Ia minta keihlasan Pak Haji ini untuk menjelaskan bagaimana peluang, cara serta pemasaran budidaya blimbing, bahkan ia tidak melewatkan juga keinginannya untuk naik haji melalui usaha ini. Keinginan mbah Nur ternyata tidak bertepuk sebelah, Haji Suhadak dengan sukarela dan detail menjelaskan semuanya, bahkan mengulang-ulang jika sekiranya mbah nur tidak paham oleh penjelasannya.

Ketika dirasa sudah cukup mantap, mbah Nur minta pamit pulang. Sebanyak 1 karung tepung yang berisi blimbing bagus-bagus diberikan oleh pak haji dengan cuma-cuma untuk dijadikan bibit nantinya. Tidak lupa juga, Pak Haji Suhadak membacakan do’a barokah untuk niat mulia mbah Nur semoga sukses dalam usahanya.

Sesampai di rumah, ia lalu bercerita pada kawannya, Mbah Suyoto mengenai informasi dan pengetahuan yang diperoleh dari Haji suhadak. Belimbing sekarung itupun dibagi dua dengan kawannya tersebut. Mulailah mereka berdua melakukan proses pembibitan, lalu penanaman dengan berbekal pengetahuan dari Haji Suhadak.

Di awal usahanya, mbah Nur mendapat tekanan mental karena tidak sedikit tetangga bahkan orang sedesanya yang menertawakan-mencibir usahanya. Dikatakan oleh mereka, aneh menanam kok tanaman blimbing, musti harus nunggu bertahun-tahun untuk memanen hasilnya. Itupun kalau berhasil, jika tidak maka melakukan hal yang sia-sia saja. Tidak hanya itu, cibiran dan gunjingan bahkan ada yang terasa menyakitkan, yang oleh mbah Nur tidak perlu untuk diceritakan pada kami bertiga yang hanya manggut-manggut, sesekali ikut menghela nafas panjang terbawa larut perasaan tentang perjuangan hidup si kakek tua ini. Tiba-tiba ekspresi wajah mbah Nur menjadi tegang. Msih dengan tatapan kosong ia menjelaskan keyakinannya bahwa usaha pasti akan berhasil. Dia yakin dengan apa yang disampaikan oleh Haji suhadap padanya. “Waktu semono, Alhamdulillah aku nggak nyerah, Nak ! aku yakin.. “ Begitu dia berujar mantap.

Tiga tahun kemudian, akhirnya tanaman blimbingnya sudah berbuah. Lumayan menurutnya, karena dari penen yang pertamanya ini, ia mendapat keuntungan yang menggembirakan. Ia bercerita, waktu itu ia harus berjuang dari tangan-tangan usil yang memetik tanamannya dengan seenaknya saja, tanpa mempertimbangkan bahwa itu tanaman sebagai penopang kehidupan keluarganya. Kerena kebun blimbing inilah satu-satunya kebun yang dimili oleh orang tua ini. “Nek dipangan nek kene, sak plempoke ora ngarah tak lorohi..tapi nek wes di gowo muleh, dipikir iki ora tanduran opo piye”. Jujur, dia berujar sebenarnya kalau masalah panganan, dia tidak tega begitu perhitungan pada tetangganya. Tapi bagaimana lagi, kalau prinsipnya “nek ono, yo ayo dipangan bareng” terus nanti kelaurganya makan apa, mengingat ini satu-satunya usaha penopang ekonomi.

Akhirnya, usaha budidaya blimbing mbah Nur selalu mengalami peningkatan, setiap tahun bisa panen 3-4 kali. Untuk sekali panen 1 pohon bisa menghasilkan 1 kuwintal buah blimbing. Waktu itu dia mempunyai sekitar 800 pohon. Sehingga dia menghitung, rata-rata tiap sekali panen bisa menghasilkan 1 ton buah blimbing. Peningkatan usaha blimbing ini, akhirnya membuat banyak orang mengikuti langkah mbah Nur. Dia juga tidak segan-segan, dan dengan penuh keihlasan berbagi pengalaman bersama mereka. Hingga ketika dia bisa melakukan tehnik okulasi, banyak orang yang meniru tehnik ini. Jenis buah blimbing mbah Nur yang dulu – ia menyebutnya dengan jenis blimbing lanang, kini sudah diganti dengan jenis blimbing Bangkok. Hal itu seiring dengan seringnya banyak ilmuan yang datang dan memberi penyuluhan tentang jenis blimbing yang mempunyai prospek sangat baik dengan tingkat produktifitas tinggi.

Mbah Nur menyebutkan, kini kebunnya yang dulu seperempat hektar sudah menjadi setengah hektar. Selain usaha blimbing, kini dia juga punya usaha budidaya kambing (sekitar 40-an), budidaya ikan mujair, budidaya bebek, bahkan budidaya telur puyuh. Menurutnya, usaha-usahanya tersebut bisa saling memanfaatkan. Ternak kambing menjadi pupuk organik untuk tanaman blimbing, daun pohon blimbing yang sangat lebat harus dikurangi sehingga daun-daunya dijadikan makanan kambing. Buah-buah blimbing yang jelek dan atau membusuk sebagai makanan ternak. Begitulah dia memanfaatkan semuanya.

Begitulah cerita, perjuangan Mbah Nur, perintis dan inspirator usaha budidaya blimbing di Ringinrejo. Sekarang di desa tersebut telah ada peraturan desa yang menghasurkan warganya menanam blimbing minimal 2 pohon. masyarakat telah memetik hasilnya sehingga sekarang kebun blimbing desa Ringinrejo telah menjadi taman yang sering dikunjungan orang luar.

Saat asyik-asyiknya kami ngobrol, tiba-tiba handpone Mbah Nur bordering, sebuah Ringtune “Ya Toyyibah-nya Hadad Alwi-Sulis” nyaring terdengar, menghentikan pembicaraan kami. Handpone Cina warna merah yang masih baru dikeluarkan dari sakunya. Hmmmm…Mantap ! Orang tua yang tidak ketinggalan tehnologi niy, begitu terlintas pikiran saya mengagumi Mbah Nur.

Melihat kesibukan orang tua ini – yang ternyata mempunyai nama lengkan Zaenuri dengan umur sekitar 57 tahun, akhirnya kami mohon pamit dan minta do’anya untuk kesusksesan buat kami. Sebuah pesan yang ia sampaikan, bahwa melakukan sesuatu itu harus yakin dan butuh kerja keras, dan jika berhasil jangan lupa berbagi pada orang lain dengan penuh ketulusan. Saya jadi ingat sebuah kalimat bijak “Kamu berbuat dan gagal, itu lebih baik dari pada kamu tidak berbuat apa-apa”. Diakhir perpisahan, mbah Nur memberi kami sekresek buah blimbing dan berucap “ Tak dongakno mugo-mugo, cita-cita njenengan-njenegan sukses Nak !” Amiiiiinnn..

By: Tukang Nyapu di Basecamp Sindikat Baca

Ringinrejo, 29 Januari 2012



[1] Komunitas Sekolah Nulis Sanggar Guna alamatnya di timurnya POM Bensin Kaliayar, sebelah selatannya pabrik Gudang Garam.

Taman Blimbing Organik


Catatan

Taman Blimbing Organik dan Sepenggal Kisahnya

( Icon wisata tersembunyi masyarakat Bojonegoro)

Oleh: Aw. Abde Negara

Dua minggu yang lalu. Saya mengikuti perjalanan rombongan anggota komunitas sekolah nulis “Sanggar Guna”[1] menuju Taman-Kebun Blimbing yang tepatnya berada di Desa Ringinrejo Kecamatan Kalitidu-Bojonegoro. Berangkat bersama dengan sekitar 30-an orang dengan diangkut dua mobil yang sudah disediakan oleh pihak pemilik sanggar. Tapi sebelum berangkat, sebagai pemandu rombongan dan juga sekaligus pemateri tetap sekolah nulis, yaitu Mas Anas AG – begitu saya memanggilnya – memberi beberapa aturan main yang musti diperhatikan oleh semua rombongan, terlebih lagi yang menjadi siswa-siswi sekolah nulis Sanggar Guna.

Dia menjelaskan, kegiatan ini adalah salah satu program sekolah nulis yang diadakan oleh sanggar. Sebagai sarana education model, agar peserta sekolah nulis dapat menggali banyak inspirasi dan topik yang bisa menjadi bahan menulis. Jadi, masih menurutnya – dengan mendatangi langsung objek yang mau kita jadikan ide tulisan, ini akan membawa pengaruh yang besar pada hasil tulisan kita nantinya. Kalau tulisan itu berupa karya ilmiah, maka akan membantu lebih objektif dalam menulis. Jika berupa sastra, semisal cerpen atau puisi, maka akan membantu dalam melukiskan kiasan-kiasan sehingga menjadi kiasan yang terasa kuat dan berkarakter. Begitu pula akan membantu dalam menggambarkan tempat - objek tulisan, dan beberapa hal lain yang masuk menjadi unsur dari tulisannya. Mendengar penjelasan Mas Anas AG, saya jadi teringat sebuah tulisan seorang kolomnus terkenal yang bernama Mahbub Junaedi “Sekali melihat lebih baik daripada seribu kali mendengar”. Kurang lebihnya begitu.

Hingga kemudian tepat pukul 09.08 Wib – Begitu saya melirik jam handpone saya – rombongan telah beranjak berangkat menuju lokasi. Saya waktu itu berada di mobil pertama dan duduk di pojok kiri kursi paling belakang. Sebelah saya ada 3 (tiga) orang dengan jenis kelamin sama alias laki semua (Hufftt). Selama dalam perjalanan beberapa obrolan kecil, senda gurau dan cletak-cletuk segenap penghuni mobil - seperti mengomentari setiap apa yang terlewati, menemani sepanjang perjalanan kami. Dan dalam benak saya yang tak terkatakan waktu itu adalah rasa penasaran pada taman blimbing yang hendak kami kunjungi. Mungkinkah ia seperti wisata kebun apel di Malang sana ? Atau yang bagaimana ya ? Rasa penasaran inilah yang menjadikan perjalanan ini penuh teka-teki dan terasa lama.

Akhirnya sekitar 40-an menit rombongan kami telah tiba di lokasi. Lantas kami bersama-sama masuk dalam kebun, menyusuri jalan setapak mengikuti pemandu yang berada digaris depan. Disekitar jalan yang terlewati pohon-pohon blimbing yang rindang, dengan menyembulkan buah-buahnya yang masak, seakan bermanis-muka menyambut kedatangan kami serta menawari dirinya untuk segera dipetik. Upss, sabar ! ini harus mengikuti intruksi pemandu dulu, jangan nylonong saja, begitu pikir saya meredam ketidak sabaran. Hmmmm..

****

Sejarah Taman Blimbing Ringinrejo Dengan Segala Keunikannya

Bapak Suwoto – atau akrab dipanggil Pak Wo, adalah orang pertama yang menyambut kedatangan rombongan. Beberapa teman menggelar terpal, lantas duduk dan menyampaikan beragam pertanyaan untuk menggali banyak informasi darinya seputar taman blimbing ini, sedang beberapa teman yang lainnya berdiri, bahkan ada yang mondar-mandir termasuk saya di dalamnya. Dari percakapan itulah, saya tahu ternyata Pak Wo merupakan generasi ke dua yang menggeluti usaha budidaya blimbing yang selanjutnya menjadi objek wisata Taman Blimbing. Dia bercerita bahwa asal mula blimbing di Ringinrejo itu dibawa dan dikembangkan oleh warga asli desa setempat yang bernama Mbah Nur dan Mbah Suyoto. Hanya saja Mbah Suyoto – ternyata ayah Pak Wo sendiri, telah lama meninggal dunia. Lantas bagaimana dengan Mbah Nur? Menurut Pak Wo, dia masih hidup dan kebunnya tidak jauh dari kebun Pak Wo.

Mendengar Mbah Nur masih hidup, saya bersama 2 (dua) teman saya – namanya Thohir dan Bambang - beranjak untuk mencari sosok ini. Ada keinginan yang begitu kuat untuk tahu dan bertemu langsung dengannya, yang seperti dikatakan Pak Wo tadi sebagai sang pelopor budidaya blimbing disini. Berkelebatlah pikiran saya “Sosok Mbah Nur tidak boleh terlewatkan dari jepretan kamera saya ! harus pkoknya !” hehe…

Menelusuri keberadaan kebun Mbah Nur ternyata tidak mudah. Harus bertanya-tanya dulu pada setiap orang yang saya jumpai. Hingga pada akhirnya kami bertemu dengan seorang ibu yang umurnya antara 40 – 50-an tahun. Setelah berkenalan ternyata ibuyang punya nama Kumilah ini merupakan istri Mbah Nur. Wahh…kebetulan sekali piker saya. Dia bilang Mbah Nur lagi baru saja beranjak dari kebun, bertemu dengan beberapa tengkulak. Kami bertiga disuruh menunggu sebentar karena biasanya tidak begitu lama. Dia menyuguhkan beberapa buah blimbing masak kapada kami sambil berujar “Karo ngenteni Mabh Nur, Monggo di sambi Den blimbinge Mbah-e iki“. Ujuarnya ramah.

Dan memang benar tidak begitu lama, datang seorang lelaki tua dengan pakaian sederhana. Dia naik sepadah motor dengan rengkek yang berisi beberapa karung kosong terletak di belakang motornya. Setelah menyalami dan bertegur sapa pada orang tua ini serta mengutarakan misi, kami bertiga diajak olehnya duduk dibawah pohon blimbing yang begitu rindang dibanding pohon yang lain. Dengan senyum penuh keramahan, serta hiasan keriput di wajah Mbah Nur tercermin dia sosok yang enak diajak ngobrol. Dia dengan lugu menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang kami ajukan dengan sesekali diselingi gelak canda tawa. “Eee..Mbahe iki gak tau mangan sekolahan, bosone mbahe yo ngene ki, pral prol,hehe.

*****

Dengan pandangan kosong, sepertinya sedang menerawang masa lalu yang sudah terlipat-lipat oleh ingatannya yang makin renta. Tanpa memandang pada kami, akhrinya mbah Nur memulai ceritanya.

Waktu itu terjadi pada tahun 1984. Menurutnya asal mula kebun blimbing Desa Ringinrejo, yang kemudian sekarang telah diresmikan menjadi taman wisata Kebun Blimbing ini adalah bermula dari suatu pertemuan di balai Desa Siwalan dengan seorang petugas PPL kecamatan setempat. Waktu itu Mbah Nur tertarik dengan isi pembicaraan dari petugas PPL bahwa ada salah seorang petani yang mengelola usaha kebun blimbing sebanyak 60 pohon dan tidak sampai 6 tahun tahun sudah bisa naik haji.

Mendengar penuturan petugas PPL itu, Mbah Nur menjadi kaget dan termotifasi, apalagi saat merenungi kebun yang dimilikinya selama itu selalu ditanami palawija dan tidak banyak mengangkat perekonomian keluarganya. Keinginan Mbah Nur selanjutnya disampaikan pada rekannya yang bernama Suyoto –seorang kasun Ringinrejo waktu itu. Apa yang menjadi niatan Mbah Nur ternyata mendapat respon positif dari Mbah Suyoto. Mbah Yoto – begitu dia memanggilnya, memotifasi bahkan mengamini niat budidaya blimbing tersebut.

Setelah mendapat keyakinan penuh, pada suatu hari Mbah Nur berangkat ngontel ke Desa Siwalan, mencari sosok yang disebut-sebut oleh petugas PPL, yang ternyata namanya Haji Suhadak. Setelah bertemu dengan sosok Haji Suhadak, Mbah Nur mengutarakan segala maksud dan tujuan kedatangannya. Ia minta keihlasan Pak Haji ini untuk menjelaskan bagaimana peluang, cara serta pemasaran budidaya blimbing, bahkan ia tidak melewatkan juga keinginannya untuk naik haji melalui usaha ini. Keinginan mbah Nur ternyata tidak bertepuk sebelah, Haji Suhadak dengan sukarela dan detail menjelaskan semuanya, bahkan mengulang-ulang jika sekiranya mbah nur tidak paham oleh penjelasannya.

Ketika dirasa sudah cukup mantap, mbah Nur minta pamit pulang. Sebanyak 1 karung tepung yang berisi blimbing bagus-bagus diberikan oleh pak haji dengan cuma-cuma untuk dijadikan bibit nantinya. Tidak lupa juga, Pak Haji Suhadak membacakan do’a barokah untuk niat mulia mbah Nur semoga sukses dalam usahanya.

Sesampai di rumah, ia lalu bercerita pada kawannya, Mbah Suyoto mengenai informasi dan pengetahuan yang diperoleh dari Haji suhadak. Belimbing sekarung itupun dibagi dua dengan kawannya tersebut. Mulailah mereka berdua melakukan proses pembibitan, lalu penanaman dengan berbekal pengetahuan dari Haji Suhadak.

Di awal usahanya, mbah Nur mendapat tekanan mental karena tidak sedikit tetangga bahkan orang sedesanya yang menertawakan-mencibir usahanya. Dikatakan oleh mereka, aneh menanam kok tanaman blimbing, musti harus nunggu bertahun-tahun untuk memanen hasilnya. Itupun kalau berhasil, jika tidak maka melakukan hal yang sia-sia saja. Tidak hanya itu, cibiran dan gunjingan bahkan ada yang terasa menyakitkan, yang oleh mbah Nur tidak perlu untuk diceritakan pada kami bertiga yang hanya manggut-manggut, sesekali ikut menghela nafas panjang terbawa larut perasaan tentang perjuangan hidup si kakek tua ini. Tiba-tiba ekspresi wajah mbah Nur menjadi tegang. Msih dengan tatapan kosong ia menjelaskan keyakinannya bahwa usaha pasti akan berhasil. Dia yakin dengan apa yang disampaikan oleh Haji suhadap padanya. “Waktu semono, Alhamdulillah aku nggak nyerah, Nak ! aku yakin.. “ Begitu dia berujar mantap.

Tiga tahun kemudian, akhirnya tanaman blimbingnya sudah berbuah. Lumayan menurutnya, karena dari penen yang pertamanya ini, ia mendapat keuntungan yang menggembirakan. Ia bercerita, waktu itu ia harus berjuang dari tangan-tangan usil yang memetik tanamannya dengan seenaknya saja, tanpa mempertimbangkan bahwa itu tanaman sebagai penopang kehidupan keluarganya. Kerena kebun blimbing inilah satu-satunya kebun yang dimili oleh orang tua ini. “Nek dipangan nek kene, sak plempoke ora ngarah tak lorohi..tapi nek wes di gowo muleh, dipikir iki ora tanduran opo piye”. Jujur, dia berujar sebenarnya kalau masalah panganan, dia tidak tega begitu perhitungan pada tetangganya. Tapi bagaimana lagi, kalau prinsipnya “nek ono, yo ayo dipangan bareng” terus nanti kelaurganya makan apa, mengingat ini satu-satunya usaha penopang ekonomi.

Akhirnya, usaha budidaya blimbing mbah Nur selalu mengalami peningkatan, setiap tahun bisa panen 3-4 kali. Untuk sekali panen 1 pohon bisa menghasilkan 1 kuwintal buah blimbing. Waktu itu dia mempunyai sekitar 800 pohon. Sehingga dia menghitung, rata-rata tiap sekali panen bisa menghasilkan 1 ton buah blimbing. Peningkatan usaha blimbing ini, akhirnya membuat banyak orang mengikuti langkah mbah Nur. Dia juga tidak segan-segan, dan dengan penuh keihlasan berbagi pengalaman bersama mereka. Hingga ketika dia bisa melakukan tehnik okulasi, banyak orang yang meniru tehnik ini. Jenis buah blimbing mbah Nur yang dulu – ia menyebutnya dengan jenis blimbing lanang, kini sudah diganti dengan jenis blimbing Bangkok. Hal itu seiring dengan seringnya banyak ilmuan yang datang dan memberi penyuluhan tentang jenis blimbing yang mempunyai prospek sangat baik dengan tingkat produktifitas tinggi.

Mbah Nur menyebutkan, kini kebunnya yang dulu seperempat hektar sudah menjadi setengah hektar. Selain usaha blimbing, kini dia juga punya usaha budidaya kambing (sekitar 40-an), budidaya ikan mujair, budidaya bebek, bahkan budidaya telur puyuh. Menurutnya, usaha-usahanya tersebut bisa saling memanfaatkan. Ternak kambing menjadi pupuk organik untuk tanaman blimbing, daun pohon blimbing yang sangat lebat harus dikurangi sehingga daun-daunya dijadikan makanan kambing. Buah-buah blimbing yang jelek dan atau membusuk sebagai makanan ternak. Begitulah dia memanfaatkan semuanya.

Begitulah cerita, perjuangan Mbah Nur, perintis dan inspirator usaha budidaya blimbing di Ringinrejo. Sekarang di desa tersebut telah ada peraturan desa yang menghasurkan warganya menanam blimbing minimal 2 pohon. masyarakat telah memetik hasilnya sehingga sekarang kebun blimbing desa Ringinrejo telah menjadi taman yang sering dikunjungan orang luar.

Saat asyik-asyiknya kami ngobrol, tiba-tiba handpone Mbah Nur bordering, sebuah Ringtune “Ya Toyyibah-nya Hadad Alwi-Sulis” nyaring terdengar, menghentikan pembicaraan kami. Handpone Cina warna merah yang masih baru dikeluarkan dari sakunya. Hmmmm…Mantap ! Orang tua yang tidak ketinggalan tehnologi niy, begitu terlintas pikiran saya mengagumi Mbah Nur.

Melihat kesibukan orang tua ini – yang ternyata mempunyai nama lengkan Zaenuri dengan umur sekitar 57 tahun, akhirnya kami mohon pamit dan minta do’anya untuk kesusksesan buat kami. Sebuah pesan yang ia sampaikan, bahwa melakukan sesuatu itu harus yakin dan butuh kerja keras, dan jika berhasil jangan lupa berbagi pada orang lain dengan penuh ketulusan. Saya jadi ingat sebuah kalimat bijak “Kamu berbuat dan gagal, itu lebih baik dari pada kamu tidak berbuat apa-apa”. Diakhir perpisahan, mbah Nur memberi kami sekresek buah blimbing dan berucap “ Tak dongakno mugo-mugo, cita-cita njenengan-njenegan sukses Nak !” Amiiiiinnn..

By: Tukang Nyapu di Basecamp Sindikat Baca

Ringinrejo, 29 Januari 2012



[1] Komunitas Sekolah Nulis Sanggar Guna alamatnya di timurnya POM Bensin Kaliayar, sebelah selatannya pabrik Gudang Garam.